Selasa, 11 November 2014

Penerapan Pendekatan Group Technology Pada Perancangan Tata Letak Fasilitas Pabrik

1.        Profil Perusahaan
Seiring jalannya waktu dan perkembangan teknologi, persaingan sangat  ketat khususnya pada dunia konstruksi menuntut perusahaan untuk melakukan efisiensi diberbagai aspek produksi. Salah satu efisiensi yang dapat dilakukan oleh perusaha an adalah mengoptimalkan kinerja di lapangan dengan melakukan pengaturan tata letak fasilitas dan aliran bahan sehingga (material handling) pelaksanaan pekerjaan proyek/produksi dapat lebih efisien, hemat waktu, frekuensi pekerjaan yang rendah dan ha sil produksi yang optimal. Salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi adalah dengan melakukan analisa dan simulasi pada tata letak fasilitas proyek konstruksi.
PT. Surabaya Panel Lestari adalah salah satu dari sekian banyak anak cabang dari Olympic Group yang konsisten memproduksi tipe – tipe seperti produk almari, meja hias, meja belajar, meja kantor dan lain-lain. proses produksi pembuatan produk dengan menggunakan mesin termasuk aktivitas material handling. Tipe layout lantai produksi pada saat ini berdasarkan fungsi atau proses yang mengelompokkan mesin yang fungsinya sejenis.
2.        Sistem Prosuksi
PT. Surabaya Panel Lestari konsisten memproduksi 2 jenis produk yaitu almari dan meja.  meja hias, meja belajar, meja kantor.
Jumlah karyawan produksi pada PT. Surabaya Panel Lestari sebanyak 25 pegawai. Gaji tenaga kerja setiap orang sebesar Rp 1.120.000,-/bulan. Gaji seluruh karyawan yang bertugas senilai Rp 28.000.000.
Alat Material Handling  yang digunakan pada PT. Surabaya Panel Lestari berupa fixed path equipment yaitu peralatan material handling yang sudah tetap digunakan dalam proses proses produksi, dan tidak dapat digunakan untuk maksud-maksud lain. Alat material handling yang digunakan ialah kereta dorong dengan jumlah 15 unit. PT. Surabaya Panel Lestari juga mempunyai peralatan material handling yang bersifat fleksibel dapat dipergunakan untuk bermacam-macam tujuan dan tidak khusus untuk mengangkat bahan-bahan tertentu.
PT. Surabaya Panel Lestari ini memproduksi untuk skala menengah. Kebutuhan sumber daya  pun berbanding lurus. Semakin besar tingkat produksi semakin tinggi tingkat kebutuhan sumber daya.
Semakin besar skala produksi semakin kompleks masalah yang dihadapai mulai dari waktu produksi, biaya produksi, dan faktor – faktor lainnya. Sehingga dibutuhkan ahli industri untuk merencanakan segala hal yang bersangkutan dengan proses produksinya.
Lantai produksi PT SPL memiliki luas 1260 m2 (45m x 28m). Lantai produksi hanya digunakan untuk proses produksi karena untuk gudang bahan baku sudah ada tersendiri dan tidak terdapat penyekat antar mesin. Terlihat jelas pengaturan tata letak mesin pada lantai produksi yang tidak beraturan karena selama ini perusahaan hanya memanfaatkan tempat kosong untuk meletakkan mesin-mesin produksi.
Lantai produksi PT Surabaya Panel Lestari memiliki 12 unit mesin yang digunakan dalam proses produksi kedua produk yang diamati. Berikut mesin – mesin yang digunakan antara lain :
Tabel Mesin Produksi Dan Fungsinya
3.        Layout Produksi
Aliran Produksi
Proses produksi berurutan dari mesin cutting (M1) hingga mesin fininshing (M14). Berikut layout awal perusahaan:
Layout Awal Perusahaan
Komponen – Komponen
Meja
1.      Kaki meja
2.      Papan utuh
3.      Mortise
4.      Tenon

Lemari
5.      Pintu lemari
6.      Sisi kiri kanan
7.      List profile
8.      Rak
9.      Frame
10.  Panel

4.        Production Flow Analysis
            Production flow analysisnya sebagai berikut:

KOMPONEN
MESIN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
2
0
0
0
1
0
1
0
0
0
1
3
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
4
0
0
0
0
1
1
0
1
0
0
5
0
0
0
1
1
1
0
0
1
1
6
0
0
1
1
0
0
0
0
0
1
7
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
8
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
9
0
1
0
0
0
1
0
0
1
0
10
1
1
0
0
0
1
0
0
1
0
11
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
12
1
1
0
0
0
1
1
1
0
1
Production Flow Analysis
Keterangan:
1 : dikerjakan
0 : tidak dikerjakan

Penjelasan Insiden Matrik
                Komponen 1 dikerjakan di mesin 1, 10, 11 dan 12. Komponen 2 dikerjakan dimesin 7, 9, 10, 11, dan 12. Komponen 3 dikerjakan dimesin 1, 3, dan 6. Komponen 4 dikerjakan dimesin 2, 5, dan 6. Komponen 5 dikerjakan dimesin 1, 4, dan 5. Komponen  dikerjakan dimesin 1, 2, 4, 5, 8, 9, 10, 11 dan 12. Komponen 7 dikerjakan dimesin 3, 7, 11 dan 12. Komponen 8 dikerjakan dimesin 1, 4, 11 dan 12. Komponen 9 dikerjakan dimesin 1, 5, 9, 10,dan 11. Komponen 10 dikerjakan dimesin 2, 5, 6, 11 dan 12.




Kamis, 06 November 2014

Memulai usaha tingkat ukm

USAHA KRIPIK PISANG
Latar Belakang
Pisang (Musa Paradisiaca) merupakan  salah satu komoditi  horlikultura yang dikembangkan  pemerintah Indonesia  saat ini disamping  tanaman pangan lain seperti mangga,  jeruk,  manggis  dan  markisa.  Iklim  Indonesia  yang  sesuai  memungkinan tanaman pisang  tersebar hampir  di seluruh  wilayah   Indonesia.
Buah  pisang  merupakan  bahan  pangan  yang  cukup  populer,  pisang dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat  dari berbagai  tingkat  usia  mulai  dari bayi,  anak-anak,  remaja  sampai  orang  tua.  Biasanya  pisang  dikonsumsi   dalam keadaan segar dan selebihnya dalam bentuk olahan. Menurut Divisi Pangan dan Gizi Departemen  Pertanian  (1995), konsumsi  pisang  di Indonesia  adalah  sebesar 17,44 kg per kapita/tahun, hal ini jauh diatas konsumsi jeruk dan mangga yang masing-masing sebesar 4,84 kg/tahun dan 4,12 kg/tahun. Bila  dilihat  dari  sisi  penawaran,  jumlah  produksi  pisang  menempati  urutan pertama diantara produksi buah nasional dan produksinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat tahun 1995 dan 1996, pisang memberikan kontribusi masing-masing  sekitar 42% dan 36% dari total produksi  buah  (Dirjen  Tanaman Pangan  dan Hortikultura,  1998).  Rata-rata  produksi  pisang selama  tahun  1990-1996  sekitar 2.870.435,7 ton dengan luas panen sebesar 80.411,3 ha.
Namun tidak semua dari total produksi pisang dapat dikonsumsi masyarakat, hal ini disebabkan oleh sifat pisang yang mudah rusak, masih kurangnya pengolahan pascapanen  dan  agroindustri  hilir  sehingga  pisang  terlanjur  membusuk  sebelum dikonsumsi oleh konsumen.  Menurut Divisi Pangan dan Gizi Departemen Pertanian ( 1997), dari produksi tahun 1996 sebesar 3,66 juta ton disamping ekspor sebesar ribu ton bagian yang diterima konsumen untuk konsumsi hanya sebesar 3,203 juta ton atau sekitar 90% dari total penyediaan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan melakukan diversifikasi produk berupa pengolahan produk pertanian yaitu buah pisang menjadi keripik pisang. Pengembangan agroindustri pisang dengan mengolahnya menjadi keripik pisang, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan mutu produk pisang..  Disamping  itu  agroindustri  pisang  juga  akan  mendukung  pengembangan budidaya  pisang,  karena  agroindustri  membutuhkan  bahan  baku  yang  kontinu  untuk kelangsungan  usahanya. Selama ini sebagian besar produk pertanian dijual dalam bentuk buah segar yang belum memiliki nilai tambah. Nilai tambah suatu produk pertanian dapat diperoleh melalui proses pengolahan lebih lanjut. Harga jual produk olahan pisang akan lebih mahal dibandingkan dengan harga jual buah pisang dalam bentuk segar sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani serta pengusaha pengolah kripik pisang.
B.     Gambaran Umum Potensi Usaha
Dari beragam jenis makanan ringan yang beredar di pasaran, keripik pisang merupakan salah satu camilan yang banyak digemari para konsumen. Citarasanya yang khas, serta tekstur keripiknya yang renyah, sampai saat ini cukup mudah ditemukan di pasaran bebas dengan kisaran harga yang terbilang relatif murah. Hal inilah yang menjadikan camilan keripik pisang cukup familiar di seluruh kalangan masyarakat. Terlebih dengan harganya yang terjangkau cukup bersahabat bagi kalangan menengah ke bawah. Aneka olahan keripik pisang juga sangat beragam. Bahkan saat kita berkunjung ke supermarket, ada banyak sekali jenis olahan keripik pisang dengan macam-macam bumbu perasa yang berbeda-beda seperti asin, manis, dan dikemas dalam bentuk yang menarik. Jika dibandingkan dengan popularitas produk camilan lainnya, keripik pisang ternyata tak kalah bersaing. Bahkan beberapa merek keripik pisang buatan Indonesia kini sudah ada yang berhasil menembus pasar ekspor.
Bahan baku yang bisa kita dapat dari alam maupun pasar-pasar tradisional yang bisa dikreasikan dalam bentuk makanan camilan salah satunya adalah pisang. Pisang memang makanan yang cukup nikmat bila dinikmati saat warna kulitnya sudah berwarna kuning, terlebih bila memetiknya langsung dari pohon pasti sensasi rasanya cukup manis dan segar.                      
            Mengolah pisang menjadi keripik, tentu bukanlah hal yang sulit, untuk urusan bumbu kita pun bisa tanya sani sini, terlebih bahan baku pisang bisa didapat dengan mudah di pasar-pasar tradisional maupun dari petani langsung, bagi yang tinggal di wilayah pedesaan. Dan ini tentunya semakin memberi harapan besar bagi para usahawan kecil sekelas industri rumah tangga. Keripik pisang bisa diproduksi dan dikemas dalam ukuran yang berbeda-beda, tergantung segmen pasar mana yang akan dibidik. Keripik pisang bisa dikemas dalam plastik ukuran kecil dengan harga ke konsmen akhir Rp 1.000 hingga dalam plastik transparan yang agak besar dengan harga muali Rp 5 ribu hingga lebih dari Rp 10 ribu. Dan tentunya camilan keripik pisang ini merupakan camilan enak namun dengan harga yang ekonomis untuk berbagai kalangan.      
            Untuk urusan pemasaran, kita bisa menyasar beberapa tempat-tempat yang cukup punya potensi jual tinggi seperti toko-toko yang berada di daerah sendiri maupun supermarket atau minmarket. Bila punya stok yang lumayan banyak, bisa juga menawarkan keripik yang kita produksi ke grosir-grosir yang ada di kota kita. Dan tentunya untuk memasarkan makanan ringan yang tergolong mudah laku ini tentunya bukanlah sesuatu hal yang sulit.
Ini adalah salah satu bentuk kreatifitas dan strategi dari beberapa pengambil peluang usaha keripik pisang untuk mengambil pasar dan menjadi produk olahan keripik pisang alternative dari yang telah ada.